July 3, 2014

Berkaca Pada Pendidikan Tempo Doeloe

Oleh : Arif Bijaksana
Pengelola LKSA Nurul Ihsan

Sistem pendidikan di Indonesia sejatinya bisa bercermin pada pendidikan tempo dulu. Salah satunya adalah gambaran sistem pendidikan pesantren tempo dulu yang dikelola oleh tokoh masyarat–Kyai atau Ajengan, dimana pembiayaan pendidikan sangat terjangkau bahkan digratiskan.

Pembiayaan seluruh aktifitas pesantren biasanya didapatkan dari pimpinan pondok pesantren yang memiliki kekayaan lahan pertanian atau perkebunan, peternakan, perikanan dll. Ada juga pimpinan pesantren yang berasal dari saudagar kaya pemilik perdagangan, pabrik tenun dll. Tentu saja, selain itu pembiayaan pendidikan di pesantren ditunjang juga oleh relasi dan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren tersebut.

Hal ini lumrah saja sebenarnya, mengingat apa yang kita berikan akan kembali berkali kali lipat dan penuh berkah. Sehingga wajar, jika pimpinan atau pemilik pesantren bisa membiayai ratusan bahkan ribuan santri. Tentu saja dengan banyaknya manfaat dari pesantren bagi masyarakat, mendorong para donatur untuk turut menyumbangkan sebagian hartanya bagi proses pendidikan di pesantren tersebut. Inilah berkah yang diturunkan bagi manusia yang menempuh jalan kebaikan.

Disamping pembelajaran tentang pesantren dan pengetahuan umum, para santri atau pelajar biasanya juga dilibatkan dalam kegiatan pertanian, perdagangan dll. Hal ini tentu saja akan melatih para santri untuk trampil dalam bekerja dan wirausaha sebagai bekal penghidupannya di masa depan.

Maka sistem pendidikan di Indonesia ke depan secara pembiayaan idealnya menjadi tanggung jawab pemerintah, dibantu oleh dunia usaha. Tentu saja dengan penerapan kurikulum dan metode pembelajaran yang tepat. Maka in sya Allah akan lebih berkah.

Dan kurikulum pendidikan harus dapat menerjemahkan tantangan kehidupan, dalam mengelola kekayaaan alam Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Weh sampai pulau Rote. Kekayaan Indonesia yang sangat berlimpah, baik yang ada di daratan maupun perut bumi, dan dipermukaan laut sampai dasar laut, yang dipadukan dengan kemanfaatan dan kenyamanan hakekat tujuan kehidupan itu sendiri.

“PENDIDIKAN” adalah pilar utama dan kata kunci dalam pengembangan sumber daya manusia dan keunggulan daya saing Indonesia.

Seandainya Indonesia dapat menerapkan konsep pendidikan yang berkeadilan, inklusif, dan terjangkau. Pendidikan yang bukan hanya untuk peserta didik di sekolah, tetapi sekolah menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru. Sekolah menjadi balai latihan kerja untuk peserta didik dan masyarakat.

Pemerintah, dunia usaha, peserta didik, dan masyarakat berkolaborasi, saling mengisi dan saling menguntungkan satu sama lain. Karena pendidikan bukan hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, melainkan merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan zaman. Karena Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, meyakini bahwa “Pendidikan utamanya bukanlah cara untuk menghasilkan individu yang cerdas, tetapi sebagai alat untuk meratakan kesenjangan sosial”.

walaupun mencetak individu cerdas bukan tujuan utama pendidikan di Finlandia, namun semua peserta didik disana, terlepas dari kenyataan apakah mereka berasal dari keluarga kaya atau miskin, hidup di kota atau di desa, dan apakah mereka siswa normal maupun penyandang disabilitas, mereka semua merupakan siswa tercerdas di berbagai bidang.

Pendidikan menjadi alat inisiator, fasilitator, dan dinamisator terciptanya lingkungan sosial yang baik. Pendidikan pula yang menjadi pondasi akhlak manusia, sikap mental, dan masa depannya, sehingga ia harus memiliki nilai yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan yang Maha Esa.

Bookmark and Share
wheels happy
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *